Minggu, 25 Desember 2011

MORBILI


1.      Definisi :
Morbili adalah suatu penyakit akut yang menular, disebabkan oleh virus yang umumnya menyerang anak.  Memiliki memiliki gejala klinis yang khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing mempunyai cirri khusus : (1) stadium prodromal berlangsung selama 4-5 hari , disertai panas, malaise, batuk, fotofobia, konjungtivitis, koriza, (2) stadium erupsi dimana koriza dan batuk-batuk bertambah berat, kemudian timbulnya enamtema, timbulnya ruam mulai dari belakang telinga , menyebar ke muka, badan dan kaki, (3) stadium konvalensi dimana gejala-gejala pada stadium sebelumnya mulai menghilang (Widjaja, 2006)
Menurut   Burnett (2007), Morbili adalah penyakit anak menular yang biasanya lazim ditandai dengan gejala-gejala utama berupa ruam , demam, scarlet, serta adanya pembesaran dan nyeri limpa nadi.

2.      Etiologi
Penyebab morbili adalah :
Ø  Virus morbili yang terdapat dalam secret nasofaring dan darah selama masa prodromal sempai 24 jam setelah timbulnya bercak-bercak.
Ø  Virus dapat tetap aktif minimal 34 jam pada temperature kamar.
Ø  Virus ini berupa virus RNA, termasuk dalam golongan  paramyxovirus , genus morbilivirus.



3.      Patofisiologi :
              Setelah tertular Virus melalui droplet lewat udara, virus menempel dan berkembang biak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal.
              Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan.Virus dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis.
              Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit (Burnett, 2007).

4.      Manifestasi Klinis :
Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari tiga stadium :
A.    Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam yang diikuti dengan batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis. Tanda patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak Koplik.
Ø  Pada fase ini Virus Morbilli bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebar ke mana-mana. Selain ke kulit, ke selaput lendir hidung, mulut, pencernaan.
Ø  Bila proliferase sel-sel endotel kapiler di dalam korium masuk ke daerah konjungtiva sehingga terjadi peradangan dapat mengakibatkan konjungtivitis.
B.     Stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-papular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstrimitas.
Ø  Jika masuk ke daerah epidermis yang menyebabkab terjadinya eksudasi mengakibatkan ruam pada kulit.
C.     Stadium penyembuhan (konvalesens), setelah 3 hari ruam berangsur-angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.
(Widjaja, 2006)

5.      Diagnosis :
1)      Anamnesis :
Penegakan diagnosis Morbili dimulai dari anamnesis untuk mengetahui gejala dan tanda khas yang dimiliki oleh penyakit morbili. Berikut adalah hal-hal yang harus digali dari pasien;
Ø  Demam tinggi terus menerus 3-5 hari atau lebih disertai batuk pilek
Ø  Mata merah, fotofobia
Ø  Dapat disertai diare dan muntah
Ø  Ruam mukolopapular menyeluruh muncul pertama pada daerah batas rambut dan dahi, serta belakang telinga, menyebar ke arah perifer sampai pada ekstrimitas.
Ø  Riwayat kontak, merupakan salah satu resiko tinggi terkena morbili.
Ø  Riwayat imunisasi, sehingga system kekebalan anak belum ada terhadap infeksi virus penyebab morbili.

2)      Pemeriksaan fisik
Menurut Burnett (2007), pemeriksaan fisik biasanya didapatkan kelainan yang biasanya didapatkan dari penderita morbili. Kemungkinan dapat ditemukan beberapa tanda seperti :
A.    Keadaan Umum : compos mentis
B.     Mata          : terdapat konjungtivitis, fotofobia
C.     Kepala       : Sakit kepala
D.    Hidung      :Banyak terdapat secret, koriza
E.     Mulut dan bibir : Mukosa bibir kering, batuk
F.      Kulit          : permukaan kulit kering, turgor kulit menurun, gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki, eritema, febris.
G.    Respirasi    : Batuk, sesak napas, sputum.
H.    Tumbuh Kembang : BB, TB, BB lahir untuk mengetahui tumbuh kembang anak untuk mewaspadai timbulnya komplikasi pada anak gizi buruk.
3)      Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis morbili (Nursalam, 2008) .
A.    Darah tepi : jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri
B.     Pemeriksaan serologi : untuk mendeteksi antibodi IgM sebagai tanda adanya infeksi morbili akut.
C.     Pemeriksaan Sitologi : ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi.

4)      Penatalaksaan :
Menurut Alimul (2008), pengobatan morbili dilakukan untuk mengobati gejalanya karena penyebab morbili adalah virus.. Penatalaksaan pada kasus morbili yang dilalakukan untuk bersifat simtomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran dan anti konvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada morbili dengan penyulit pasien perlu dirawat inap. Penatalaksaan dapat dilakukan, berupa :
A. Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari :
1. Pemberian cairan yang cukup
2. Kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi
3. Suplemen nutrisi
4. Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder
5. Anti konvulsi apabila terjadi kejang
6. Pemberian vitamin A.
B. Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 390 C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi.
C. Campak tanpa komplikasi :
1. Hindari penularan
2. Tirah baring di tempat tidur
3. Vitamin A 100.000 IU, apabila disetai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari
4. Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi
           D. Campak dengan komplikasi :
1. Ensefalopati/ensefalitis
a. Antibiotika bila diperlukan, antivirus dan lainya sesuai dengan PDT ensefalitis
b. Kortikosteroid, bila diperlukan sesuai dengan PDT ensefalitis
c. Kebutuhan jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit
2. Bronkopneumonia :
a. Antibiotika sesuai dengan PDT pneumonia
b. Oksigen nasal atau dengan masker
c. Koreksi gangguan keseimbangan asam-basa, gas darah dn elektrolit
3. Enteritis : koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi (lihat Bab enteritis dehidrasi).
4.Pada kasus campak dengan komplikasi bronkhopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau terhadap adanya infeksi TB laten. Pantau gejala klinis serta lakukan uji Tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan.

1 komentar:

  1. judi casino online menghadirkan permainn class Elit dari beberapa provider ternama.

    Ayo Segera Daftar Akun Bermain Anda..Gratiss..

    Klik >>>>>>> Daftar Game Casino

    Hubungi Segera:
    WA: 087785425244
    Cs 24 Jam Online

    ========================

    BalasHapus